Review Buku

Review Buku: Sang Alkemis (Paulo Coelho)

Cerita petualangan menarik yang lebih mirip cerita nabi.

Judul: Sang Alkemis (The Alchemist)

Penulis: Paulo Coelho

Genre: Fiksi (novel)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Cetakan 27, Januari 2021 (versi asli 1988)

Jumlah halaman: 215

Bahasa: Bahasa Indonesia

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Mungkin Anda yang membaca tulisan ini sudah tidak asing atau setidaknya pernah mendengar judul buku yang akan saya review kali ini. Sang Alkemis atau The Alchemist menjadi salah satu novel paling populer di seluruh dunia. Pertama kali terbit di Brazil pada tahun 1988, novel ini sudah terjual lebih dari 65 juta copy dan diterjemahkan ke dalam 80 lebih bahasa. Dengan angka yang cukup fantastis, apa yang sebenarnya membuat Sang Alkemis dibaca oleh begitu banyak orang? Sebelum mengulas lebih dalam, terlebih dahulu saya akan menceritakan perjalanan saya hingga bisa membaca novel ini.

Sebenarnya sudah agak lama tahu novel dengan judul popular The Alchemist ini, kalau tidak salah ketika masih menjadi mahasiswa semester awal beberapa tahun yang lalu, salah satu kakak tingkat saya menawarkan novel ini berbentuk file PDF di salah satu grup WhatsApp. Waktu itu saya sudah tidak asing dengan kata “Alchemist,” karena sebelumnya saya sudah pernah mendengar istilah tersebut dari sebuah anime dengan judul “Fullmetal Alchemist Brothehood.” Dan di anime itu yang namanya alchemist adalah mereka yang bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Animenya sendiri cukup epic karena sampai saat ini masih menjadi urutan pertama di situs MyAnimelist.com. Kembali ke alchemist versi novel, karena dulu saya belum begitu suka yang namanya baca buku, jadi saya tidak mengunduh dan membaca PDF yang dibagikan oleh kakak tingkat saya tadi, tapi tetap The Alchemist karya Paulo Coelho ini jadi saya ingat cukup baik.

Berlanjut ke beberapa tahun kemudian ketika saya mulai memiliki ketertarikan membaca buku, saya memiliki kebiasaan mencari rekomendasi atau mencari tahu buku-buku apa saja yang terkenal dan dibaca oleh banyak orang, dan dari situlah saya bertemu kembali dengan The Alchemist. Ya begitulah perjalanan saya bertemu dengan buku ini, buku yang sebenarnya saya pikir cukup “overrated.”

Garis besar novel ini mengisahkan penggembala domba dari Andalusia Spanyol yang pergi berkelana untuk mencari harta karun ke Mesir. Cerita yang cukup klise bukan? Tapi saya rasa Paulo Coelho bisa mengemas cerita petualangan yang sederhana tersebut menjadi seru dan menarik. Dimulai dengan mendapat sebuah mimpi, bertemu dengan orang-orang baru dengan karakter yang unik, serta halangan dan rintangan yang cukup aneh menemani dalam setiap perjalanannya. Karena ini novel, saya tidak akan terlalu banyak menjelaskan jalan ceritanya, nanti malah bisa jadi spoiler. Saya akan lebih ke menceritakan bagaimana pengalaman saya ketika membacanya.

Sudut penceritaan yang dipakai dalam novel ini adalah orang ketiga dengan alur maju, sebenarnya tidak terlalu membutuhkan effort untuk memahami jalan ceritanya, hanya saja karena tema dari novel ini lebih ke fantasi, jadi pikiran rasional saya sering kali muncul dan membuat bergumam “apaan dah”. Ya memang se fantasi itu, kita akan sering dipertemukan dengan kata-kata seperti “ramal” dan “tanda-tanda”, serta adegan-adegan yang cukup bisa membuat si karakter utamanya terlihat seperti Nabi. Kenapa menurut saya agak mengganggu? Karena latar belakang yang dipakai di novel ini adalah dunia nyata (Andalusia dan Mesir), hanya saja dicampuri oleh bubuk-bubuk fiksi yang bagi saya pribadi sepertinya tidak terlalu cocok dengan tema seperti itu. Saya melihat novel ini agak tanggung dalam mencampurkan realitas dan unsur klenik, atau memang dibuat seperti itu agar para pembaca cukup penasaran hal aneh apa lagi yang terjadi. Sebenarnya sudah agak lama saya membaca novel ini, lebih dari sebulan yang lalu, tapi baru sempat saya tulis review-nya sekarang. Yang jelas ada satu perasaan membekas yang masih saya ingat betul sampai sekarang setelah saya selesai membacanya. Perasaan aneh dan bingung, juga kesal, mengikuti kisah petualangan seorang penggembala domba yang ending-nya tidak bisa saya tebak. Mungkin bagi sebagian cerita ending yang tidak bisa ditebak itu bagus ya, tapi untuk yang satu ini malah jadi kesal. Tapi dari sekian banyaknya hal absurd yang saya temukan dalam novel ini, saya cukup menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Paulo Coelho selaku penulis. Tentang peluang dan penyesalan jika tidak mengambil peluang tersebut, atau pun tentang menyesal telah mengambil peluang yang sangat ngawang. Bisa juga tentang apa yang sebenarnya kita cari selama ini ada di dekat kita, tapi karena kita tidak sadar, kita harus melakukan hal-hal bodoh dan konyol untuk menyadarinya. Cerita yang cukup imbang menggambarkan dua sisi koin.

Apa yang saya suka dari novel ini:

  • Menawarkan cerita petualangan yang cukup seru
  • Bisa membuat saya ingin pergi ke tempat yang sangat jauh

Apa yang saya kurang begitu suka:

  • Ending yang menyebalkan. Tapi ini unik sih sebenarnya

Karena perasaan bingung dan jengkel, saya mencari pendapat orang-orang di Goodreads tentang buku ini, dan ya banyak yang tidak suka. Saya memahami apa yang mereka tidak sukai dari novel ini, lebih ke novel ini tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, saya pun begitu. Sosok alkemis yang saya kira tidak terlalu jauh dengan ada yang di anime ternyata lebih mirip nabi. Kenapa saya suka menggunakan istilah “nabi” ya? Mungkin Anda bisa membacanya sendiri dan paham dengan apa yang maksud. Tapi sekali lagi ini penilaian subjektif, saya tidak bisa menutup mata jika novel ini sudah dibaca oleh jutaan orang dan masih terus direkomendasikan sampai sekarang. Kenapa ya? Selera saya saja yang beda atau memang saya belum cukup mumpuni untuk menikmati karya sastra, entahlah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi selama ini saya memang lebih suka dengan cerita drama kehidupan yang relate dengan diri dan lingkungan saya, jadi ketika dipaksa untuk membayangkan hal-hal aneh dan ngawang, saya merasa hal itu tidak terlalu menarik.  Kemudian jika diminta untuk merekomendasikan novel ini, saya akan merekomendasikan kepada mereka yang suka cerita petualangan dan fantasi, juga klenik-klenik aneh serta cerita nabi.

Dari skala 1-5, saya rasa Sang Alkemis cukup diberi nilai 3.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: