Review Buku

Review Buku: The Power of Habit (Charles Duhigg)

Buku The Power of Habit karya Charles Duhigg menjelaskan kekuatan sebuah kebiasaan dan bagaimana cara untuk merubahnya.

Judul: The Power of Habit (Dahsyatnya Kebiasaan) – Mengapa Kita Melakukan Apa yang Kita Lakukan dalam Hidup dan Bisnis

Penulis: Charles Duhigg

Genre: Non fiksi (self improvement)

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit: 2013

Jumlah halaman: xx+370

Bahasa: Bahasa Indonesia

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

“Aturan Emas Perubahan Kebiasaan: Anda tidak bisa menghentikan kebiasaan buruk, Anda hanya bisa mengubahnya.”

Charles Duhigg

Mungkin sebagian dari Anda tidak asing dengan cover dari buku ini. Menjadi salah satu buku best seller mengenai kebiasaan membuat tidak sedikit orang yang merekomendasikan buku ini, selain Atomic Habits karya James Clear. Dari situ juga saya menemukan buku ini, berawal dari membaca sebuah tulisan di Quora tentang rekomendasi buku-buku yang wajib dibaca setidaknya sekali seumur hidup. The Power of Habit karya Charles Duhigg (seorang reporter investigasi New York Times) ini tidak seperti buku yang sebelumnya pernah saya baca mengenai kebiasaan positif. Buku Cara Cepat Melatih Kebiasaan Positif Sehari-hari milik Marc Reklau lebih berfokus pada masalah-masalah yang biasa kita temui sehari-harinya, sedangkan The Power of Habit sendiri menjelaskan akar dari pembentukan sebuah kebiasaan itu sendiri, ketika kita memahami konsepnya, kita bisa mengaplikasikannya untuk merubah segala kebiasaan buruk yang kita lakukan selama ini.

Apa isinya?

Dibagi menjadi tiga bagian, Charles Duhigg mencoba menjelaskan jika kebiasaan tidak hanya perihal individu, melainkan mencakup wilayah yang lebih luas dan berdampak lebih besar. Bagian pertama menjelaskan mengenai kebiasaan perorangan, bagian kedua berbicara mengenai kebiasaan organisasi yang sukses, dan bagian ketiga menjelaskan tentang kebiasaan komunitas/masyarakat.

Yang membuat buku ini bagus sebenarnya ada pada bagaimana Charles Duhigg menyampaikan tulisannya. Dari awal saya seperti membaca sebuah kumpulan cerpen, cerita-cerita kisah nyata tentang penelitian dan studi kasus yang berhubungan dengan perkembangan studi mengenai kebiasaan, baik di level individu sampai komunitas. Contohnya di bagian pertama, menceritakan kisah Eugene Pauly, seorang lansia yang mengalami cidera otak yang mengakibatkan ia menderita kepikunan. Di bagian ini Charles Duhigg menjelaskan bagaimana seseorang yang pikun (diminta untuk mengingat informasi yang baru beberapa menit diterimanya saja tidak bisa) tetapi sanggup menjalani aktifitas sehari-hari, seperti pergi berjalan-jalan dan bisa kembali ke rumah tanpa bantuan orang lain. Charles Duhigg selalu menggunakan kisah-kisah seperti itu untuk membantu para pembaca memahami konsep dari pembentukan kebiasaan ini. Beberapa diantaranya adalah:

  • Bagaimana Pepsodent membentuk kebiasaan warga Amerika Serikat menyikat gigi menggunakan pasta gigi.
  • Bagaimana transformasi Buccaneers (Tim American Football) yang tadinya tidak pernah menang bisa menjuarai Super Bowl.
  • Bagaimana Alcoa (sebuah perusahaan aluminium) di mana tadinya sering terjadi kecelakaan kerja hingga menjadi perusahaan paling aman untuk pekerja.
  • Bagaimana Starbucks menjadikan para pekerjanya tahan banting hingga bisa membuka cabang di seluruh dunia.
  • Bagaimana Target (perusahaan retail) bisa mengetahui apa yang dibutuhkan pelanggannya sebelum pelanggannya sendiri tahu.
  • Bagaimana sebuah gerakan kecil di salah satu negara bagian bisa menghapus peraturan diskriminasi ras di seluruh Amerika Serikat.

Dari sekian banyak kisah yang diceritakan tersebut, Charles Duhigg selalu menyebutkan lingkar neurologis yang membentuk sebuah kebiasaan. Terdiri dari Tanda-Rutinitas-Ganjaran. Lingkaran tersebut selalu digunakan untuk membantu para pembaca memahami konsep yang melatarbelakangi berbagai sebab dari kebiasaan yang tadinya buruk hingga hasilnya membentuk kebiasaan baik.

Lingkaran kebiasaan Charles Duhigg

Panduan singkat merubah kebiasaan

Setelah saya memahami bagaimana kekuatan dari sebuah kebiasaan dari kisah-kisah di atas, baru di bagian paling akhir Charles Duhigg memberikan panduan singkat yang bisa kita gunakan untuk merubah atau membentuk suatu kebiasaan. Bingkai kerjanya meliputi:

LANGKAH SATU: IDENTIFIKASI RUTINITAS

Untuk memahami kebiasaan diri kita sendiri, kita harus mengidentifikasi komponen-komponen lingkar-lingkar kebiasaan kita. Ketika telah mengetahui perilaku buruk tertentu, baru kita bisa mencari cara untuk menggantinya dengan rutinitas-rutinitas baru. Charles Duhigg menggunakan contoh dirinya sendiri yang memiliki kebiasaan buruk pergi ke kantin dan makan biskuit coklat setiap sore yang menyebabkan berat badannya naik beberapa kilo. Rutinitas yang ia lakukan adalah berdiri dari meja di sore hari, berjalan ke kantin, membeli biskuit coklat, dan memakannya sambal berbincang dengan teman.

Lingkaran kebiasaan Charles Duhigg

Setelah mengetahui hal tersebut, pertanyaan berikutnya adalah apa tandanya? Rasa laparkah? Rasa bosan? Atau perlu istirahat sejenak sebelum mengerjakan tugas yang lain? Selain itu apa pula ganjarannya? Biskuit itu sendiri? Ganti pemandangan? Atau agar bisa bergaul dengan teman?

LANGKAH DUA: COBA-COBA DENGAN GANJARAN

Ganjaran sungguh kuat karena memuaskan rasa mengidam. Namun kita seringkali tidak menyadari rasa mengidam yang mendorong perilaku kita. Guna mencari tahu rasa mengidam mana yang bisa mendorong suatu kebiasaan tertentu, ada gunanya mencoba-coba dengan ganjaran yang berbeda-beda. Ini mungkin berlangsung beberapa hari, atau minggu, atau lebih lama lagi.

Hari pertama percobaan, masih menggunakan contoh yang tadi, ketika mulai merasakan dorongan pergi ke kantin dan membeli biskuit, cobalah untuk mengubah rutinitas sehingga memperoleh ganjaran yang berbeda. Misalnya daripada berjalan ke kantin, pergilah keluar, berjalan-jalan, dan kemudian kembali lagi ke meja kerja. Apa yang dipilih selain membeli biskuit tidaklah penting. Intinya adalah menguji berbagai hipotesis untuk menentukan rasa mengidam mana yang mendorong rutinitas.

Apakah mengidam biskuit itu sendiri atau istirahat sejenak? Bila benar biskuitnya, apakah karena lapar? Kalau begitu, apel juga bisa memuaskan rasa laparnya. Ataukah itu karena membutuhkan energy yang berasal dari biskuit? Kalau begitu kopi seharusnya bisa menggantikannya. Atau jalan-jalan ke kantin sebagai alasan untuk bergaul, dan biskuit itu hanyalah sekadar alasan mudah? Kalau begitu, mendatangi meja orang lain dan mengobrol beberapa menit seharusnya sudah memuaskan dorongan itu.

Lingkaran kebiasaan Charles Duhigg

BAGIAN TIGA: TEMUKAN TANDANYA

Alasan mengapa sulit mengidentifikasi tanda-tanda yang memicu kebiasaan-kebiasaan kita adalah karena terlalu banyak informasi yang membombardir kita seiring berlangsungnya perilaku-perilaku kita. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah menyantap sarapan pada waktu tertentu setiap hari atau karena lapar? Atau karena jam menunjukkan pukul 07.30? Atau karena sudah rapi berdandan, dan saat itulah kebiasaan sarapan terjadi?

Untuk mengidentifikasi satu tanda di antara begitu banyak hal yang bersliweran, kita dapat menggunakan sistem yang sama dengan sang ahli psikologi: Terlebih dahulu mengidentifikasi kategori-kategori perilaku untuk dicermati agar bisa menemukan pola. Berbagai percobaan telah menunjukkan bahwa hampir semua tanda bagi kebiasaan dapat dikelompokkan ke dalam salah satu dari lima kategori:

  • Lokasi
  • Waktu
  • Kondisi emosional
  • Orang lain
  • Tindakan yang berlangsung tepat sebelumnya

Jadi apabila sedang berusaha menemukan tanda dari kebiasaan “pergi ke kantin dan membeli biskuit coklat”, tulislah lima hal begitu dorongan itu muncul. Berikut ini catatan-catatan Charles Duhigg sewaktu dia berusaha mendiagnosis kebiasannya:

  • Di mana kau? (duduk di meja)
  • Jam berapa ini? (15.36)
  • Apa kondisi emosionalmu? (bosan)
  • Ada siapa saja di sekitarmu? (tidak ada)
  • Tindakan apa yang terjadi sebelum dorongan itu? (membalas email)

Hari berikutnya:

  • Di mana kau? (berjalan balik dari mesin fotokopi)
  • Jam berapa ini? (15.18)
  • Apa kondisi emosionalmu? (senang)
  • Ada siapa saja di sekitarmu? (Jim dari divisi olahraga)
  • Tindakan apa yang terjadi sebelum dorongan itu? (memfotokopi)

Hari ketiga:

  • Di mana kau? (ruang konferensi)
  • Jam berapa ini? (15.41)
  • Apa kondisi emosionalmu? (lelah, bersemangat soal proyek yang sedang kugarap)
  • Ada siapa saja di sekitarmu? (editor-editor yang datang ke rapat ini)
  • Tindakan apa yang terjadi sebelum dorongan itu? (aku duduk karena rapat hampir dimulai)

Setelah tiga hari, sudah cukup jelas tanda mana yang memicu kebiasaan Charles Duhigg memakan biskuit coklat. Dia merasakan dorongan untuk memakan pada waktu tertentu dalam sehari. Dia telah mendapatkannya, pada langkah kedua, bahwa bukan rasa lapar yang mendorong perilakunya. Ganjaran yang dia cari adalah pengalihan perhatian sementara, misalnya yang diperoleh dari mengobrol dengan teman. Dan dia kini tahu kebiasaan itu terpicu antara pukul 15.00 – 16.00.

Lingkaran kebiasaan Charles Duhigg

LANGKAH EMPAT: SUSUN RENCANA

Begitu kita menemukan lingkar kebiasaan kita (telah mengidentifikasi ganjaran yang mendorong perilaku, tanda yang memicunya, dan rutinitas itu sendiri), kita pun bisa mulai mengubah perilaku itu. Kita bisa mengubah rutinitas menjadi lebih baik dengan merencanakan tanda dan memilih perilaku yang memberikan ganjaran yang diidamkan. Yang kita butuhkan adalah rencana.

“Kebiasaan adalah pilihan yang kita buat secara sengaja di satu titik, dan kemudian kita berhenti pikirkan, namun terus kita lakukan, seringkali setiap hari.”

Artinya, kebiasaan adalah rumus yang otak kita ikuti secara otomatis; Sewaktu kita melihat TANDA, kita akan melakukan RUTINITAS agar memperoleh GANJARAN.

Untuk merekayasa ulang rumus itu, kita harus mulai membuat pilihan lagi. Cara termudah melakukannya adalah memiliki rencana. Misalnya kebiasaan Charles Duhigg makan biskuit tiap sore. Dengan menggunakan kerangka kerja ini, dia mempelajari bahwa tandanya adalah kira-kira pukul 15.30. Dia tahu rutinitasnya adalah pergi ke kantin, membeli biskuit, dan mengobrol dengan teman. Setelah melalui coba-coba, dia berhasil mengetahui bahwa bukanlah biskuitnya yang dia idamkan, melainkan pengalihan perhatian sejenak dan kesempatan untuk bersosialisasi. Maka, Charles Duhigg menulis rencana ini: “Setiap hari, pada pukul 15.30, aku akan berjalan ke meja teman dan mengobrol selama 10 menit.” Untuk memastikannya ingat melakukan itu, dia memasang alarm di arloji agar berbunyi pukul 15.30.

Rencananya tidak langsung berhasil. Ada beberapa hari ketika Charles Duhigg sangat sibuk dan mengabaikan alarm itu, dan kemudian malah membeli biskuit lagi. Pada waktu-waktu lain, dia merasa repot untuk mencari teman yang bisa diajak mengobrol, lebih mudah memperoleh biskuit, maka dia pun menyerah pada dorongan itu. Namun pada hari-hari ketika dia mengikuti rencananya (ketika alarm berdering, dia memaksakan diri berjalan ke meja teman dan mengobrol sepuluh menit), dia mendapati bahwa dia merasa lebih baik ketika pekerjaan di hari itu berakhir. Dia tidak pergi ke kantin, dia tidak memakan biskuit, dan ternyata dia baik-baik saja. Pada akhirnya, hal itu pun menjadi otomatis: ketika alarm berbunyi, dia mencari teman dan pada ujung waktu kerja merasakan kepuasan kecil namun nyata karena berhasil melakukan sesuatu. Setelah beberapa minggu, dia nyaris tak memikirkan lagi tentang rutinitasnya. Dan ketika dia tidak bisa menemukan orang yang bisa diajak mengobrol, dia pergi ke kantin dan membeli teh yang lantas dia minum bersama teman-temannya.

Semua itu terjadi enam bulan yang lalu ketika Charless Duhigg menulis buku The Power of Habit ini. Dia sudah tidak memiliki arloji, sudah hilang. Namun pada sekitar 15.30 setiap hari, bagai tidak sadar, dia berdiri, melihat berkeliling ruang berita untuk mencari orang yang bisa diajak mengobrol, menghabiskan sepuluh menit mengobrol mengenai berita, dan kemudian kembali lagi ke mejanya. Hal itu terjadi nyaris tanpa dia pikirkan. Itu telah menjadi kebiasaan.

Mungkin mengubah beberapa kebiasaan bisa jadi lebih sulit. Namun kerangka kerja ini adalah titik awal. Terkadang perubahan membutuhkan waktu lama. Terkadang perubahan membutuhkan percobaan dan kegagalan berulang-ulang. Namun begitu kita memahami bagaimana kebiasaan bekerja (mendiagnosis tanda, rutinitas, dan ganjaran), kita pun memperoleh kuasa atasnya.

Sebenarnya panduan singkat di atas hanya seperti sebuah penegas dari keseluruhan isi buku ini, karena hanya membaca panduan tersebut menurut saya tidak cukup untuk benar-benar memahami secara mendalam kekuatan dari sebuah kebiasaan. Kisah-kisah yang disampaikan oleh Charles Duhigg itu sendiri yang menyadarkan saya betapa pentingnya memahami konsep dari perubahan kebiasaan, lebih tepatnya manfaat yang bisa ditimbulkan ketika sudah bisa sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik.

Kesimpulan

Secara keseluruhan saya sangat menikmati ketika membaca buku ini, gaya bahasanya enak untuk dibaca, mungkin karena Charles Duhigg menggunakan kisah-kisah itu tadi agar para pembaca tidak jengah seperti ketika membaca buku-buku pelajaran. Untuk kekurangan, atau sepertinya tidak bisa disebut kekurangan juga, pada bagian yang menjelaskan Tim American Football Buccaneers, saya agak sedikit sulit untuk membayangkannya, karena saya tidak begitu memahami cara bermain dan peraturan-peraturannya berhubung olahraga tersebut cukup asing bagi masyarakat Indonesia secara umum. Tetapi itu hanya sedikit kesulitan, secara keseluruhan saya masih bisa memahami bagian tersebut.

Kesimpulannya, dari skala 5 saya memberi nilai 4.5 untuk buku ini. Sangat recommended untuk orang yang ingin mengulik lebih dalam mengenai kekuatan dari sebuah kebiasaan, dan bagaimana cara untuk merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik.

“Mengubah kebiasaan tidak selalu mudah atau butuh waktu singkat. Hal itu tak selalu sederhana. Namun mengubah kebiasaan itu mungkin. Dan sekarang kita paham bagaimana.”

Charless Duhigg

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: